PERESEAN, SENI ADU KETANGKASAN

Salah satu banyaknya upacara adapt Lombok yang menyimbolkan keberanian dan kejantanan pemuda suku sasak adalah pereesean. Seni tarung adu ketangkasan dengan menggunakan tonghkat pennjalin (rotan) dan ende (perisai) merupakan seni tarung yang memiliki nilai-nilai seni dan filosofi yang tinggi.

Upacara peresean biayasanya diadakan pada musim kemarau untuk meminta hujan. Namun, seiring berkembangnya zaman, peresean tidak lagi diadakan hanya pada musim kemarau. Kini pereseab kerap diadakan pada perayaan adat ataupun upacara-upacara nasional seprti ulang tahun hari kemerdekaan, bahkan terkadang peresean saat ini diadakan dalam rangka memperingati upacara pihak-pihak, intansi atau kelompok-kelompok tertentu.

 

Sejarah

Kegiatan pereesan sangatlah kental akan nilai-nilai seni dan buadaya. Peresean juga mengandung nilai histories yang sangat kental yaiutu untuk mengenang legenda Ratu Mandalika. Selain itiu, nilai yang terkandung dalam upacara pereesean itu adalah bagaimana seorang pemuda suku sasak yang memiliki ketangguhuan, ketangkasan dan keberanian yang sangat tinggi di hadapan penonton.

Dengan disaksikan khalayak umum dan banyaknya penonton, maka petarung sangatlah dituntut untuk bertarung secara sportif, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan curang. Dengan demikian maka petarung tersebut akan bias akan dipandang oleh masyarakat Lombok sebagai petarung yang punya kemampuan, keberanian dan harga diri.

Upacara peresean ini juga terkenal dengan nilai-nilai kesakralannya. Pertarungan ini dikenal sebagai upacara dan doa memohon kepada tuhan agar menurunkian hujan pada musim kemarau. Masyarakat suku sasak percaya semakin banyak petarung yang mengeluarkan darah dalam pertarungan pereesean , maka juhan pun akan segera turun dengan derasnya.

Peresean merupakan seni pertarungan yang dilakukan oleh dua orang laki-laki sasak. Petarungan ini biasa dipanggil pepadu dalam istilah peresean itu sendiri. Selama kedua petarung tersebut saling uji ketangnkasan , pertarungan akan terus diamati oleh wasit (pekembar). Dalam peresean, pekembar sedi (wasit yang mengawasi jalannya peresean dari pinggir arena) dan pekembar tengaq (wasit yang mengawasi jalannya peresean di tengah arena).

Selama upacara peresean berlangsung inilah, para petarung saling serang menggunakan tongkat rotan dan saling menangkis menggunakan perisai yang terbuat dari kulit kerbau yang sangat tebal. Keberanian, ketangguhan dan ketangkasan petarung akan terus diuji selama upacara peresean ini berlangsung.

Pada seni budaya peresean in unik. Sebelum pertarungan, petarung sama sekali tidak memiliki persiapan dan mengetahui siapa yang akan menjadi lawann tarungnya. Petarung akan mengetahui siapa yang akan menjadi lawannya pada saat itu juga, keunikan yang lainnya adalah ketika upacara peresean berlangsung (betarung), di sela-sela pertarungan akan diperdengarkan alunan khas suku sasak.

Petarung harus menghentikan peresean untuk sementara menari-nari mengikuti alunan musik yang dimainkan. Meskipun peresean sebagai seni adu ketangkasan tidak jarang para petarung yang mengeluarkan darah atau luka-luka terna pukulan rotan(penjalin).

Nilai-nilai kesabaran, rendah hati dan saling menghormati sangatlah kental pada upacra iini. Setiap selesai pertarungan, para petarung saling pelukan dan memaafkan seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Bagi anda yang berkunjung ke kota mataram akan disuguh dengan upacara peresean ini jika beruntung mengingat pelaksanaannya yang tidak diadakan setiap hari. Namun sebelum berkunjung , ada baiknya anda menyimak agenda-agenda dinas pariwisata kota mataram atau menanyakan langsung kepada agen-agen perjalanan anda mengenai waktu dan tempat upacara peresean ini akan diadakan atau mungkin berlangsung.(Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram. Buku : Ayo Ke Mataram)

 

 

 

PAWAI OGOH-OGOH

KERAGAMAN agama dan budaya yang ada dikota matram membuat kota ini menjadi kiota yang ramai dikunjungi wisatawan domestic maupun dari mancanegara. Pawai ogoh-ogoh adalah salah satunya. Pawai yang digelar sehari sebelumn umat hindu melangsungkan ibadah nyepi ini mampu menarik ribuan pengunjung dan penontong untuk dating.

Ogoh-ogoh merupakan budaya khas pulau dewata yang telah lama berkembang pesat di pulau Lombok , terutama dikota mataram. Banyaknya warga mataram yang berasal dari bali menjadikan ogoh-ogoh mulai dikenal luas oleh seluruh masyarakat mataram hingga ke seluruh masyarakat nusantara. Kebudayaan yang berasal  dari bali memang telah menjadi bagian penting dalam perkembangan kebudayaan di pulau Lombok.

Dalam ajaran hindu dharma, ogoh-ogoh menggambarkan kepribadian butha kala. Butha kala menyimbolkan kekuatan alam semesta (bhu) dan waktu yang tidak terukur (kala).namun secara perwujudannya, nutha kala digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan, tinggi dan besar. Biasanya butha kala kerap digambarkan dalam bentuk raksasa.

Ogoh-ogoh yang kerap diarak sepanjang jalan ini juga kerap digambarkan dalam bentuk mahluk-mahluk yang hidup dimayapada, neraka dan surga. Wujud dari bentuk tersebut seperti garuda, gajah, naga, widyadari dan dewa.

Semarak pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan dimataram memang telah banyak memberi dampak yang positif terhadap kemajuan pariwisata. Jika menjelang hari raya nyepi tiba, masing-masing banjar (lingkarang) mulai terlihat sibuk mempersiapkan dan membuuat ogoh-ogoh. Masing-masing banjar biasanya membuat wujud dan bentuk ogoh-ogoh berbeda dengan banjar-banjar yang lain.

Antusiasi warga sekitar yang ingin menyaksikan pawai tersebut cukup tinggi. Wisatawan local maupun mancanegara juga menentikan hal yang sama.tepat dipusat kota mataram, ogoh-ogoh  diarak melintasi jalan utama yang terletak di cakranegara setelah sebelumnya dilepas oleh walikota mataram, wakil walikota, atau pejabat yang mewakili.

Menurut ajaran hindu dharma, proses arak-arakan ogoh-ogoh menyimbolkan wujud keinsyafan manusia terhadap kekuatan alam semesta dan kekuatan waktu yang tidak terbantahkan. Seluruh kekuatan tersebut terdiri dari kekuatan bhuana agung ( alam semesta) dan kekuatan bhuana alit (diri manusia). Seluruhnya akan tergantung dari niat tulus manusia dalam menjag seluruh isi alam semesta dan menjaga diri sendiri sebagai mahluk ciptaan tuhan.

Biasanya jumlah ogoh-ogoh yang diarak setiap menjelang ibadah nyepi ini mencapai lebih dari seratus buah dengan arak oleh ribuan remaja, anak-anak dan para orang tua. Dalam arak-arakan tersebut, patung ogoh-ogoh yang terbuat dari bambuu dan kertas karon tersebut seluruh pengarak akan mengenakan kostum atau pakaian seragam khas banjar (lingkaran masing-masing 2 kilometer melewati  jalan utama menuju cakranegara.

Saat pawai berlangsung, gemuruh tabuhan gendang dan gamelan serta musik-musik tradisional lainnya mengiringi upacara tersebut.terlihatseluruh peserta pawai dengan serentak menari-nari mengikuti irama-irama musik yang dimainkan oleh pengirng. Sementara itu kanan dan kiri pinggir jalan dipenuhi oleh penonton dari berbagai elemen masyarakat yang sengaja meluangkan waktunya untuk menyaksikan semarak pawai yang diadakan sekali setahun ini.

Pawai ogoh-ogoh ini memang sudah berlangsung dan rutin diadakan semenjak tahun 1992. sering berjalan waktu, pawai ogoh-ogoh bukan saja telah menjadi budaya umat hindu kota mataram dan sekitarnya, namun juga bagi masyarakat luas yang ada di kota mataram. Bagi anda yang gemar akan wisata kebudayaan bernuansa religi, ada baiknya datng untuk menyaksikan langsung pawai yang digelar sekali dalam setahun ini. .(Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram. Buku : Ayo Ke Mataram)

 

 

NYONGKOLAN DI AKHIR PEKAN

Mungkin masyarakat yang berasal dari luar pulau Lombok akan merasa asing dan bingung tentang upacara nyongkolan. Namun tidak demikian dengan masyarakat asli suku sasak . bagi masyarakat suku sasak, nyongkolan adalah sebuah upacara yang unik dan telah menjadi tradisi secara turun temurun dalam menyambut sebuah pernikahan. Upacara atau kegiatan nyongkolan sekarang sudah bias sering dijumpai setiap hari, namun yang paling sering ditemui adalah ketika akhir pekan tiba.

Jalanan yang biasanya digunakan oleh khalayak umum dalam beraktifitas kerap ramai dengan hadirnya peserta nyongkolan. Ruas-ruas jalan berubah menjadi marak dengan mempertontonkan berpuluh-puluh bahkan beratus orang yang mendampingi mempelai pria menuju kediaman rumah mempelai wanita. Rombongan peserta nyongkolan pun terlihat semakin kompak dengan semuanya menggunakan pemakaian adapt lengkap.

 

Sejarah nyongkolan

Adat nyongkolan sudah dikenal semenjak zaman kerajaan masih ada di pulau Lombok. Nyongkolan merupakan kegiatan adapt sebagai salah satu bagian dari prosesi pernikahan masyarakat suku sasak. Maksud dari prosesi nyongkolan ini adalah sebagai upaya untuk memperkenalkan pasangan mempelai kepada masyarakat sekitar.

Kegiatan nyongkolan berupa diaraknya kedua mempelai dengan ditemani oleh seluruh kerabat, sanak saudara serta keluarga dari kedua mempelai. Dengan menggunakan pakaian adapt yang lengklap, suluruh peserta rombongan akan berjalan dengan diringi musik tradisional. Beberapa musik tradisional yang biasa digunakan adalah seperti gendang beleq, kecimol dan tarian rudat.

Dalam arak-arak, peserta nyongkolan dari rombongan mempelai laki-laki juga membawa berbagai macam benda hasil perkebunan dan pertanian seperti buah-buahan maupun sayur-sayuran yang nantinya akan dibagikan kepada keluarga , kerabat dan tetangga dari mempelai wanitanya.

Namun tidak demikian pada kalangan tertentu seperti bangsawan. Dalam kalangan bangsawan suku sasak, proses upacara adapt nyongkolan sedikit berbeda, tata cara dan urutan arak-arakan serta benda yang dibawa memiliki aturan tertentu. Jika anda beruntung akan menemui proses adapt nyongkolan yang dilakukan oleh kalangan bangsawan suku sasak yang penuh dengan nuansa kesakralan.

 

Keunikan nyongkolan

Yang menjadi keunikan dalam proses adapt nyongkolan ini adalah bagaimana berbaurnya masyarakat (keluarga) maupun kerabat mempelai laki-laki dengan keluarga dan kerabat mempelai wanitya secara tiba-tiba. Sekitar itupun mereka bergemira bersama dengan diringi musik yang memang telah disampaikan sebagai pengiring adata tersebut.

Jalanan kadang mancet secara mendesak saat ada rombongan nyongkolan dan biasanya terjadi pada akhir pecan seperti hari sabtu dan minggu. Biasanya adapt nyongkolan dilakukian saat siang menjelang sore atau selepas adzan dzuhur dikumandangkan.

Bila anda sedang dalam perjalanan melintas ruas-ruas jalan di kota mataram dan sekitarnya, kebetulan berpapasan langsung dengan rombongan peserta nyongkolan, maka bersiaplah untuk menikmati arus lalu lintas yang mendadak jadi mancet. Mata telinga anda akan disuguhkan dengan tarian serta musik-musik yang menghentakkan jantung.

Sebaiknya, anda juga luangkan waktu untuk liat ikut serta menjadi bagian dari prosesi tersebut dengan berjalan bersama para peserta nyongkolan. Se[perti ketika ke tempat lain, jangan lupa juga siapkan kamera anda sebelumnya untuk mengabadikan moment-moment yang nantinya bias diceritakan kepada kerabat dan keluarga anda tentang bagaimana uniknya sebuah adapt nyongkolan oleh suku sasak.

Nah, semoga anda beruntung bisa melihat secara langsung uniknya adat nyongkolan. (Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram. Buku : Ayo Ke Mataram)

 

  • Halaman :  
  • 1
  • 2
  • 3

Agenda Kegiatan

Banner Link

Website Resmi LPSE Kota MataramRencana Umum Pengadaan Kota MataramWebsite Sistem Informasi Publik Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kota MataramWebsite Pengaduan Online RakyatPot n Plot Smart CitySSH Kota Mataram Tahun 2018Kota Mataram Dalam Data Tahun 2017Kecamatan Cakranegara Dalam DataKecamatan Ampenan Dalam DataKecamatan Mataram Dalam DataKecamatan Sandubaya Dalam DataKecamatan Sekarbela Dalam DataKecamatan Selaparang Dalam DataWebsite jdih Kota MataramBanner TEST MNEK 2018Desain Banner HUT RI 73Desain Banner HUT Kota 25

Polling

Apakah informasi di Website Kota Mataram bermanfaat menurut anda?
Bermanfaat Sekali
Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kurang Bermanfaat